Tuesday, June 14, 2011

Million Dollar Baby Sepakbola Inggris



35 juta pounds untuk Andy Carroll, 20 juta untuk Jordan Henderson, 16 juta untuk Phil Jones, dan lebih dari 9 juta untuk Connor Wickham. Apakah talenta-talenta teranyar Britania Raya itu pantas dibandrol dengan pundi-pundi uang yang sebegitu mahal? Apa yang telah benar-benar mereka lakukan sampai-sampai pada umur yang belum lebih dari 23 berhasil masuk pada jajaran transfer termahal di EPL?

Awal tahun ini, seiring dengan bergulirnya revolusi di sudut merah Merseyside, Andy Carroll berhasil memecahkan rekor transfer antar klub Inggris selama beberapa jam sebelum dipecahkan oleh Fernando Torres yang menyebrang dari Liverpool ke Chelsea dengan nilai 50 juta pounds. Publik Inggris dan dunia dibuat kaget dengan nilai Carrol yang mencapai 35 juta. Beberapa pengamat dan fans menganggap Liverpool menetapkan harga yang terlalu tinggi untuk seorang bocah 20 tahun yang baru mengalami setengah musim penuh pertamanya di Premier League. Prestasinya di Championship dengan membawa Newcastle promosi dan menjadi top skor klub dianggap belum cukup untuk meningkatkan harganya menjadi 35 juta yang berarti lebih mahal dari Darren Bent yang sudah malang melintang di Premier League serta Luis Suarez kompatriotnya di Liverpool yang malang melintang di Afrika Selatan 2010 serta Eredivisie dengan gol yang sudah melebihi 100 bersama Ajax Amsterdam.

Drama yang serupa dengan kasus Carroll ternyata berlanjut di transfer musim panas ini. Hal ini terjadi pada dua pembelian pertama derby North-west.

Jordan Henderson, bintang muda Sunderland yang baru menjalani season kedua nya di EPL ini diboyong dengan nilai hampir 20 juta pounds oleh Liverpool. Henderson yang kini sedang berlaga di kejuaraan Eropa U-21 di Denmark memang di rate cukup tinggi oleh pelatihnya di Sunderland, Steve Bruce. Ia menilai Henderson dengan perumpamaan “he got the world at his feet”. Tapi apa dengan pujian seperti itu dan kepercayaan mengenakan nomor punggung 10 di Sunderland membuatnya pantas dihargai 20 juta?.

Begitu juga dengan sesama punggawa timnas U-21 Inggris, Phil Jones yang merupakan pemain asal Blackburn Rovers. Jones diboyong Manchester United dengan nilai 16 juta. Jones yang berhasil menggeser kapten Ryan Nelsen di Blackburn dari starting-eleven pada umur 20 tahun memang digadang-gadang sebagai The Next England’s Captain. Tapi pertanyaannya kembali lagi ke awal, apa pemain yang baru 2-3 tahun merasakan top-flight football dan memperoleh 2-3 caps timnas senior pantas dibandrol puluhan juta?

Bandingkan lagi prestasi Andy Carroll dengan Luis Suarez? Apakah Carroll pernah menjadi top skor sebuah liga utama? Apakah Carroll pernah bermain dan mencetak gol indah penentu kemenangan tim nya di Piala Dunia?.

Lalu bandingkan Sunderland’s sensation Jordan Henderson dengan playmaker Real Madrid keturunan Jerman-Turki Mesut Oezil yang hanya berbandrol 15 juta. Apakah Henderson pernah menjuarai World Cup U-21 dan ditahun berikutnya membawa negaranya menjadi second runner-up Piala Dunia?

Jawabannya tentu bisa kita temukan dengan mudah, tapi ternyata bukan begitu lah cara Liga Inggris bekerja. Local-talent selalu di rate tinggi, sangat tinggi dan bahkan terlalu tinggi untuk beberapa orang. Mungkin ada alasan dibalik tinggi nya rata-an nilai transfer para anak-anak muda ini yang belum kita ketahui.

Sunday, May 22, 2011

Brazil Bukan Belanda



Tau nggak apa bedanya Belanda sama Brazil? Pasti banyak yang bilang tau dan bakal ngasih beribu-ribu alasan kenapa Belanda dan Brazil berbeda.

Kalau saya mau mulai dengan menyoroti sepakbola nya terlebih dahulu. Keduanya terkenal dengan negara yang masyarakatnya sangat menggandrungi sepak bola. Bintang-bintang sepakbola yang termahsyur pun lahir dari kedua negara ini. Sebut saja Pele dan Johan Cruyff hingga Robinho dan Robin van Persie. Kedua negara ini pun dikenal dengan pelopor sepakbola indah dari benua nya masing-masing. Brazil dengan jogo bonito nya dan Belanda dengan total voetball nya. Tapi semenjak Piala Dunia sepakbola antar negara di gelar hampir se-abad yang lalu, prestasi kedua negara ini jelas berbeda. Brazil sudah berhasil mengkoleksi lima gelar juara dunia! Sedangkan Belanda? Nihil dan tahun lalu kembali merasakan menjadi runner-up untuk ketiga kalinya walaupun berhasil mengalahkan Brazil di babak perempat-final.

Tentu kalau cuma diliat dari sepakbola kita akan berasumsi kalau tinggal di Brazil bakal jadi nyenengin banget, gimana enggak? Juara lima kali Piala Dunia!. Kebalikannya dengan asumsi kita tinggal di Belanda, mungkin bakal sedikit desperate, hehehe. Tapi situs Forbes.com melansir data bahwa ternyata tinggal di Belanda itu lebih membuat senang daripada tinggal di Brazil. Belanda dengan nyamannya duduk di posisi empat, tepat dibawah kuartet skandinavia: Denmark, Finlandia, Norwegia, dan Swedia sedangkan Brazil harus puas tercatat di peringkat ke dua belas. Kenapa begitu? Mari kita lihat, ternyata penelitian yang diterbitkan oleh Forbes ini kira-kira indikatornya adalah warga negara di negara itu:  well-rested, respected, free of pain and intellectually engaged. Ada yang berhubungan dengan sepakbola secara langsung? Enggak kayanya.

Nah, berarti karena indikatornya enggak ada yang berhubungan sama sepakbola, wajar dong kalo Brazil enggak otomatis ada di atas Belanda dan bahkan Belanda yang ternyata ada di atas Brazil. Empat hal yang jadi indikator diatas tadi lebih banyak berhubungan sama aspek-aspek pekerjaan, kesehatan, hubungan sosial, dan pendidikan. Kalau kita liat lebih jauh lagi soal pendidikan, Belanda ternyata emang “juara” dalam hal ini. Dari survey yang dilansir Newsweek ternyata Belanda itu peringkat 8 dalam kualitas pendidikan, lalu lebih penting lagi Global Higher Education Rangkings yang dilansir oleh Educational Policy Institute menempatkan Belanda sebagai yang nomer satu dalam aksesibilitas pendidikannya. Brazil? Di luar dari 70 besar survey yang pertama dan 13 besar dari survey yang kedua.

Berarti ada kecocokan logika soal negara paling menyenangkan untuk hidup menurut Forbes dengan dua survey tentang pendidikan yang dilansir Newsweek dan Educational Policy Institute. Jadi dari logika tadi memang benar kalau Belanda itu salah satu negara paling menyenangkan untuk hidup, salah satunya adalah karena kualitas pendidikan di Belanda yang jempolan. Tapi, apa udah final dan kita semua sepakat kalau kesenangan itu dilandasi oleh hal-hal kaya pekerjaan, kesehatan, hubungan sosial, dan pendidikan?. Kayanya belum tentu juga, kalau dilihat dari dua slogan yang terkenal di sepakbola “God is Brazilian” dari supporter Brazil dan “Some people think football is a matter of life and death. I assure you, it's much more serious than that” dari Bill Shankly (Pelatih legendaris Liverpool) saya rasa orang-orang Brazil juga adalah orang-orang yang senang hidup di Brazil.

Sunday, April 24, 2011

Highlights of The Reds : My LFC Player(s) of The Season!

The season’s almost over, despite there are many things that could happen in the closing, I could already said that the appearence of Liverpool FC in this season has been wonderful and awful in quite different time. We’ve seen them down in the table during Roy’s managerial time and climbing high during the King’s time. We’ve been let down by the performances of the reds againts smaller sides and their away performances earlier during (sorry but to mention again) Roy’s reign. But very proudly to say we’ve been very great against the other big four and Man City the rising power. The good thing about this season is after free falling down to the lower of the table, now we are rising up, up, and up with the #1 in the rank of “100 Players Who Shook The Kop” as a manager, King Kenny Dalglish.

Seeing this season’s about to close, I’ll review the performances of the redmen and pick some outstanding performers as the player of the season. We may have seen the unspectacular display from the like of Paul Konchesky and Christian Poulsen and the rise of the local lads like Martin Kelly, Jay Spearing, Flanno, and recently Jack Robinson (Those boys could be one of the highlight of this season) and also the winter fabolous newcomer, Luis Suarez and Andy Carrol. I’ve recognize our player(s) of the year and it is definetely not Konchesky nor Poulsen and sorry but not yet the boys and Luis or Andy. It’s those who have been outstanding this year consistently, those redmen who had put his socks over and over again for the team, and those who inspired the future kop idol. Yes I’m talking about Pepe Reina, Raul Meireles, Lucas Leiva, Dirk Kuyt, and Martin Skrtel. Ps: I really wanted to add Stevie G, but despite playing wonderful as always this season like his display in Napoli and Fulham match, he’s been battling a lot with his injuries. A little bit too much to be in the list.

#1 Pepe Reina
The Spanish who arrived right after the Istanbul triumph may have not enjoy his opener in Anfield this season. He unluckily had to be blamed for the Arsenal’s equalizer last minute goal that denied Liverpool’s win. Than in international match he also had another blunder againts Argentina. Well, those moments are the first and the last flop of Pepe Reina this season. Overall, he’s been wonderful, outstanding, fantastic, and every good words that could describe a player. With Dagger and Carra keep coming in and out the line-up because of the injury and the underperformed replacements Soto Kyrgiakos, Pepe has been wonderfully played for us. He saves the goal over and over again, there are plenty match where I was feel that we could go down to four or five but we didn’t and that’s because Pepe Reina our saviour. He deserves the recognition, to be the number one as Liverpool player of the season.

#2 Raul Meireles
He picked up PFA Fans Player of Year, how could that be possible?. Maybe we’ve heard that questions a lot by those who haven’t watch Liverpool much enough this season. Yes, Raul has been ‘the engine room’ of the team, he steals ball with Lucas, he passes ball with Stevie, and he shoots with the strikers. In times where Gerrards are injured we play not very bad and sometimes pretty good because of him. He’s been plot in many positions this seasons. In the earlier of the season he often starts at the center, and then the right-wing (playing not very good during Roy’s), behind the strikers where he play very great scoring many goals starting in the derby, and lately he played at the left-wing and playing very good too while sometimes running to the center of the field to build attack. For me, his display has been wonderful and obviously the best buy in our team, and #2 in my list :p.

#3 Lucas Leiva
Couple years ago we always heard mock about Lucas Leiva, that Yellow-head Brazillian midfielder who can’t pass, who made flops, and so on. But now, we’ve seen the same men and talked about him in a very different way. The number 21 had been phenomenal this season, some say that he is a best premier league midfielder in the making. He is dominating in the tackling departement, he’s marking and covering skills are growing to be great and now he can pass very-well!. We’ve seen his presence as crucial in some big-matchs, againts Chelsea he fight very well againts their midfielders and againts Man United, he put Scholes and Carrick in a very deep position. Actually not just in those match, but in almost every single match this season.

#4 Dirk Kuyt
Our current top-goalscorer, just beaten Torres last night when he scored againts Birmingham. He’s always been the crowd favorites I guess. A natural striker, but had a new role as a right-midfielder maybe ever since arrive in Melwood. Despite his attacking instinct and technical presence, Kuytergizer never mind to do dirty jobs, he slides and tackles alot, and for that we respect him as a commited player. This season Kuyt have been very consistently playing in the right-wing, forcing tackles, crosses and more importantly he scores many important goal, 3 of the most are scored in his compatriots goal, van der Sar’s.

#5 Martin Skrtel
He mostly acknowledge by his physical presence in the back four. I know he’s not the most talented defender in the world, his not really good in marking, his speed is average even for central defender, and he sometimes make flops. But this year, I see Martin has been working very good on his weaknesss. The miss of injury-prone Agger, Johnson, and Carra has been covered well by him. His presence should be recognize more. He deserves this place.

And that is the list, #YNWA
Chandraditya Kusuma


posted at Empire of The Kop http://www.empireofthekop.com/anfield/?p=32316

Thursday, March 31, 2011

Dosa Seorang Indonesia

Mungkin semenjak mengenal aksara dan mampu membaca dan mengertinya, bagi saya sejarah merupakan salah satu jenis tulisan yang selalu saya suka. Jika di duga-duga, saya pertama kali bersentuhan dengan suatu subyek yang bernama sejarah ini adalah saat orang tua saya memberitahu siapa kakek-nenek saya, siapa kakak saya, kapan saya lahir atau hal-hal sejenisnya. Selanjutnya saya mengenal sejarah yang lebih luas lagi dimulai di bangku sekolah dasar.

Semenjak mengenal pelajaran IPS di kelas 3 SD, bahasan mengenai sejarah selalu menarik bagi saya. Dari sejarah Indonesia hingga dunia serta dari yang klasik mengenai asal-usul manusia dan jenis-jenis manusia purba dan peninggalannya sampai yang saat itu menjadi sejarah paling up-to-date dalam buku teks pelajaran sejarah yaitu orde baru merupakan bacaan-bacaan atau dongeng-dongeng yang sangat menarik bagi saya. Saya ingat saya seringkali membaca buku-buku teks sekolah itu secara sukarela, walaupun tidak ada ulangan atau ujian, saya seringkali menyempatkan diri untuk membaca buku-buku tersebut. Selain itu saya juga beberapa kali membeli dan membaca buku-buku sejarah serta menggandrungi film-film berlatar sejarah walau beberapa ada yang setengah fiksi seperti cerita mengenai kerajaan Troya, dalam film Helen of Troy. Kira-kira itulah awal ketertarikan saya kepada sejarah yang masih berlanjut hingga kini (ps: saya memilih jurusan Sejarah sebagai pilihan kedua saya dalam tes seleksi masuk universitas).

Namun seiring berjalannya waktu dan hal-hal baru yang menarik minat saya dalam beberapa waktu belakangan ini. Dapat dibilang saya sudah cukup jarang dalam membaca teks-teks sejarah Indonesia. Pilihan bacaan saya yang semakin bervariasi dan ditambah dengan kuantitas membaca yang tidak meningkat saya duga menjadi penyebabnya. Apalagi semenjak duduk di bangku kuliah, saya tidak punya lagi pelajaran sejarah yang hadir tiap minggu bagi saya yang setidaknya mungkin membuat saya tertarik untuk membalik-balik halaman buku teksnya tiap minggu. Akan tetapi sampai dengan minggu lalu saya masih belum sadar betapa lupanya saya akan berbagai sejarah bangsa ini.

Ya, berawal tanggal 24 maret lalu seperti rentetan cipratan air ke wajah saat tertidur, saya diingatkan akan betapa banyak sejarah bangsa yang saya lupakan. Sudah hampir 4 minggu yang lalu keluarga saya kedatangan tamu dari negeri yang jauh di seberang lautan sana, Jerman. Namanya Mechti, ia kawan dari kakak saya sewaktu ia tinggal di Berlin selama satu tahun dalam program pertukaran pelajaran. Perempuan kelahiran 1989 yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran orang eropa (bahkan orang asia sebenarnya) ini datang pada sekitar 4 minggu sebelum tanggal 24 maret itu, namun ia hanya menginap satu malam di rumah dan langsung pergi menghabiskan waktu-nya di Yogyakarta dan Bali lalu baru 24 Maret lalu ia kembali tiba di Jakarta. Dimulai tanggal 24 maret kemarin saya selama kurang lebih empat hari berkesempatan untuk menemaninya berkeliling kota Jakarta dan Bandung. Dikeempat hari itulah saya akhirnya tersadarkan akan “dosa” lupa akan sejarah.

Selama berkeliling di Jakarta, terkadang Mechti bertanya akan sesuatu yang berbau dengan sejarah Indonesia. Pertanyaan pertama-nya adalah mengenai transmigrasi, dan saya untungnya bisa menjawab garis besar dari fenomena transmigrasi itu. Saya menjelaskan bahwa ini dilakukan pada era Soeharto, beberapa berjalan dengan baik, dan beberapa berjalan kurang baik seperti di Poso. Lalu saya menambahkan info bahwa konflik itu terjadi karena faktor kultural, pemerintah melakukan transmigrasi hanya melihat faktor ekonomi semata dan kurang memperhatikan aspek kultural. Itu saja saya kira yang saya jelaskan tentang transmigrasi. Kurang komprehensif memang, namun setidaknya pertanyaan itu terjawab pikir saya saat itu walau mulai sedikit kesal karena keterbatasan pengetahuan saya.

Lalu percikan air itu tiba saat kami mengunjungi Masjid Istiqlal, saya telah menyebutkan kalau Masjid itu merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ketiga di dunia, menyebutkan kalau masjid itu dirancang oleh Frederich Silaban, seorang arsitek Protestan. Namun, saya rasa saya tidak menyebutkan motif dibalik dirancangnya Istiqlal sebagai masjid yang juga merupakan monumen bagi bangsa ini. Istiqlal merupakan masjid yang dibangun untuk memperingati kemerdekaan negara ini, oleh karena itu namanya adalah Istiqlal yang berarti Merdeka dalam bahasa Indonesia. Sayang sekali, karena kalau saja saya menceritakan tentang filosofi dibalik masjid yang indah itu maka akan lebih baik lagi citra Indonesia dan lebih bangga lagi saya akan bangsa ini.

Beranjak dari Istiqlal, percikan-percikan air selanjutnya datang di Monas dan Museum Sejarah Nasional yang terletak di dalam Monas. Ya, tentu saja saya menyebutkan Monas merupakan salah satu simbol dari negara ini, namun motif pembangunannya? Serta ternyata ada filosofi lingga dan yoni yang diprakarsai Bung Karno? Ya saya tidak berhasil mengingatnya untuk dapat menjelaskan hal-hal tersebut. Motif pembangunannya ternyata adalah keinginan dari Bung Karno untuk memiliki menara yang setara dengan menara Eiffel dan dapat melambangkan Indonesia dan mengingatkan bangsa kita akan perjuangan para pahlawan. Filosofi lingga-yoni adalah filosofi yang melambangkan kesuburan, lingga digambarkan sebagai suatu yang sangat maskulin yaitu tonggak dari monas itu sendiri, sedangkan cawan dibawahnya digambarkan sebagai suatu yang feminin. Lingga-yoni sendiri menjadi harapan bagi Indonesia agar terus subur/sejahtera. Di dalam Museum Sejarah Nasional, ada serangkaian diorama mengenai sejarah Indonesia dimulai dari era manusia purba. Disitu saya benar-benar seperti mengalami flashback akan pengetahuan sejarah bangsa ini. Banyak dari momen-momen sejarah yang saya lupa, terutama perang-perang lokal dan perang-perang perlawanan Indonesia pada era mempertahankan kemerdekaan. Saya sedikit banyak terbantu dengan teks yang ada dibawah diorama-diorama tersebut. Sehingga hari itu lah saya menyesal tidak terus membaca sejarah bangsa ini.

Mampu menjelaskan sejarah bangsa sendiri kepada orang asing memang penting karena salah satunya kita dapat mengangkat martabat dan citra bangsa kita dengan kisah-kisah heroik bangsa ini. Walaupun begitu, hal itu saya rasa hanya sebagian kecil manfaat sejarah bangsa bagi kita. Dengan sejarah kita dapat belajar mengapa kita ini merupakan satu bangsa, mengapa saya yang orang Jakarta ini harus sama KTP-nya dengan saudara saya yang ada di kota-kota lain di Indonesia, mengapa kita harus berusaha mempertahankan kemerdekaan, mengapa kita harus membangun bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik, dan mengapa kita harus hidup berdampingan antara suku, ras, kepercayaan, agama atau sebagainya. Pada suatu titik dengan belajar sejarah, kita akan mengerti apa arti dibalik kutipan populer dari Bung Karno “Jas Merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Adalah suatu “dosa” yang akan mengantar kita kegelapan bila kita lupa akan sejarah. 

31/3/2011, Chandraditya Kusuma

Monday, February 7, 2011

Ahmadiyyah, Refleksi Kegagalan Bangsa

Mungkin benar dunia ini sudah gila, sudah melewati batas-batas, garis-garis, atau apapun itu patokan imajiner yang kita buat sendiri. Itulah yang saya pribadi pikirkan seketika mendengar pembantaian jemaat Ahmadiyyah di Cikeusik, Banten kemarin. 3 orang meninggal, atas tuduhan sesat! Atas tuduhan yang belum tentu benar, dan kalaupun benar, tetaplah tidak ada benarnya untuk dijadikan pembenaran bagi mereka yang merupakan pelaku kejadian biadab kemarin itu untuk menjadi pengadil atas nama Yang Maha Adil, ironisnya begitu. Dilihat dari kejadian ini, setidaknya ada tiga pukulan telak bagi Republik Indonesia.

Pertama-tama ini adalah pukulan telak bagi pendidikan yang dijalankan di negara ini. Romo Magnis dalam kesempatannya berbicara di round table discussions yang diadakan Partai Demokrat siang ini mengatakan bahwa seharusnya bangsa ini menekankan lagi pendidikan toleransi kehidupan beragama. Memang betul, mungkin kalau direfleksikan lebih jauh lagi negara kita telah gagal melaksanakan pendidikan toleransi kehidupan beragama. Seingat saya, pendidikan macam ini seharusnya kita dapatkan selama kita duduk di bangku sekolah melalui mata pelajaran Kewarganegaraan, atau PKn/PPKn. Dan apa hasilnya? Kita kembali mendengar penyerangan kelompok kepercayaan (bisa dibilang begitu) Ahmadiyyah, lebih dari 300 kejadian penyerangan dalam 4 tahun terakhir.

Yang kedua adalah kegagalan negara ini menjalankan hukum. Secara legal, baik para pengikut jemaat Ahmadiyyah dan para pelaku-pelaku aksi kekerasan itu adalah Warga Negara Indonesia. Maka, dengan segala hormat, mereka semua diikat dalam hukum negara ini. Hak dan Kewajiban mereka pada detik mereka menjadi Warga Negara Indonesia, diatur oleh hukum yang ada di negara ini. Pertanyaan pertama; Apakah aliran kepercayaan Ahmadiyyah merupakan aliran sesat dan berhak dianut di Indonesia?  Biarlah tidak saya jawab karena bukan merupakan kapabilitas saya. Namun bila jawabannya ya (saya rasa itu yang ada dipikiran para pelaku kekerasan) maka Pertanyaan kedua adalah; Apakah menjadi hak atau kewajiban kita untuk membunuh mereka yang dianggap sesat? Saya yakin jawabannya tidak. Dan berarti telah terjadi pelanggaran terhadap hukum di negara ini. Dan saya rasa tidak ada ketegasan yang signifikan dari para penegak hukum di negeri ini, apa buktinya? Buktinya kejadian kemarin merupakan kejadian yang ke- lebih dari 300 dalam 4 tahun terakhir dengan motif yang sama, keyakinan.

Yang terakhir dan yang menurut saya paling penting adalah masalah kemanusiaan. Tidak usah jauh-jauh kita membaca Pancasila lagi, memahami UUD’45 lagi, bahkan ayat-ayat di kitab suci. Apa yang kemarin baru saja terjadi adalah masalah bagi rasa kemanusiaan bagi masyarakat kita. Ini sudah masalah rasa, bukan norma, bukan nilai. Rasa (KBBI : 4 tanggapan hati thd sesuatu (indra). Apa yang kita rasakan saat melihat pembunuhan, saat mendengar rasa sakit, saat melihat mata yang ketakutan, atau saat melakukan pembunuhan?.

Mohon maaf bila ada kata yg tak berkenan.
Chandraditya Kusuma

On Your Own : Refleksi Kesendirian dan Esensi Kehadiran



Mari berbicara lirik. Suatu rangkaian kata-kata yang bisa dibilang sangat bebas penulisannya. Bisa seperti puisi, teks propaganda, atau mungkin cerita pendek. Inilah kebebasan ekspresi yang salah satunya dimiliki oleh musik. Lirik telah mengubah anak muda menjadi eksplosif, mengubah gaya hidup manusia, menyentuh emosi, bahkan membuat suatu gerakan sosial.

Richard Ashcroft melalui The Verve-nya telah menjadi salah satu ikon britpop yang bisa dibilang sangat puitis, namun liriknya selalu sulit dibaca begitu saja dan bisa dibilang memiliki sisi personal yang sangat tertutup. Gaya bicara Ashcroft selintas seperti interpersonal dan sangat gamblang. Namun bila disimak lagi kata perkatanya, ia seperti berbicara dengan lawan bicaranya tetapi dengan bahasa yang mungkin hanya dia dan (mungkin) lawan bicaranya saja yang mengerti.

On Your Own, suatu track favorit saya sepanjang masa, dan “pertemuan” saya dengan lagu ini pun sedikit unik. Saat itu saya baru mengenal The Verve belum lebih dari satu tahun kira-kira. Saat saya sedang berselancar di YouTube untuk melihat video-video The Verve -- tentu saat itu saya mencari track-track mainstream seperti Sonnet atau The Drugs Don’t Work – lalu entah kenapa saya menekan salah satu video akustik mereka, On Your Own. Dari sinilah saya semakin suka dengan lagu-lagu band asal Wigan ini.

Kembali berbicara mengenai On Your Own. Menurut saya inilah salah satu masterpiece Richard Ashcroft yang menunjukkan bagaimana dia berbicara mengenai kesendiriannya dalam monolog yang berisi pertanyaan-pertanyaan dan penjelasan-penjelasannya mengenai bagaimana kesendirian menyelimuti hidupnya, serta pengaruh sosok “You”. Dibagian akhir mungkin adalah yang paling eksplisit bagi Ashcroft, dia seperti kehilangan sosok “You” dalam hidupnya, namun yang dia sayangkan dari kehilangan ini adalah esensi kehadiran dari sosok “You” itu sendiri. Ini terlihat dari bagaimana Ashcroft menekankan bahwa ini bukan masalah “You” hadir, tapi bagaimana ada seseorang yang bisa mengisi “lubang” dalam hidupnya (all i want is someone who can feel the hole in this life i know). Lalu Ashcroft juga menekankan bagaimana dia ragu akan membutuhkan sosok “You” tadi, namun esensi kehadirannya sebelumnya lah yang sebenarnya dirindukan oleh Ashcroft, ini terlihat dalam bagaimana ia berbicara “tell me if it’s true that i need you, you are changing”. Bagi Ashcroft, sosok “You” disini jelas sekali dirindukan dalam esensi kehadirannya. Tapi pada akhirnya, Ashcroft kembali pada ketertarikan personalnya dengan menyatakan “You come in on your own, and you leave on your own, forget the lovers you’ve known, and your friends on you have told”. Bagaimanapun pada bagian ini, ada kepedulian dari Ashcroft akan apa yang dilakukan sosok “You”.

Pelajaran yang bisa saya ambil dari lagu ini adalah, orang berubah, orang pergi dari kehidupan kita. Sampai berapapun waktu yang kita butuhkan, kita akan tetap merindukannya. Apa yang dirindukan? Kita juga akan membutuhkan berapapun waktu yang kita butuhkan untuk meragukan apa yang kita rindukan adalah personal dari orang yang meninggalkan. Kerinduan itu, sekali lagi merupakan kerinduan akan esensi kehadiran. Namun, manusia pada akhirnya bukanlah angka, atau hal-hal pasti yang berjalan dengan logika saja. Keterkaitan personal, punya tempat sendiri dalam hidup manusia. Tinggal sejauh mana esensi kehadiran sesuatu yang baru bisa menutupnya.

Chandraditya Kusuma
ditulis di http://simbiosismusikalisme.blogspot.com/2010/12/on-your-own-refleksi-kesendirian-dan.html

The Enemy (UK) : Sekilas Meneropong Idola Working Class People Coventry


Bicara soal musik, tak jarang akan bicara soal Inggris (United Kingdom), sebuah serikat empat kerajaan di dua pulau yang terletak tepat diatas Eropa Daratan. Inggris telah mendapat pengakuan dunia luas sebagai kota dari kelahiran musik Rock, British Invasion yang setidaknya sudah dua kali menyerbu dunia telah membuat Inggris menjadi sebuah negara yang tersohor akan musik Rocknya. dari The Beatles dan Rolling Stones, Sex Pistols dan The Clash, Led Zeppelin dan Black Sabbath, The Smiths dan The Stone Roses, Pulp dan Suede, Blur dan Oasis, hingga The Libertines dan Arctic Monkeys, Inggris selalu memberikan berbagai warna musik Rock yang mendunia di zamannya.

Di Inggris, musik bukan sekedar musik belaka, warna-warni kehidupan sosial kultural di negeri ini turut memberi sentuhan pada musik. Aspek geografis dan kelas sosial merupakan salah satu hal yang mempengaruhi musik di negeri ini, aspek yang satu ini memang sangat melekat di masyarakat Inggris dalam berbagai bidang seperti musik dan sepakbola. bagian utara dari Inggris merupakan kota dengan penduduk mayoritas dari kelas pekerja (working class), sedangkan di selatan penduduk mayoritas merupakan orang-orang kelas menengah (middle class).Warna-warni kelas sosial seperti ini sangat menonjol pada perseteruan Oasis dan Blur di era 90-an. Dari latar belakang yang demikian, band-band di dua daerah itu pun tidak sedikit yang mewakili cap masyarakat setempatnya.

Kelas-kelas yang eksis di masyarakat Inggris yang menonjol dalam dunia musik Inggris hanyalah dua kelas masyarakat yang sebenarnya berperan sebagai pekerja. Awalnya, kelas sosial yang ada dalam sebuah masyarakat di barat hanyalah dua, yaitu kelas pekerja dan pemilik modal, namun seiring terlihat adanya kesenjangan diantara kelas pekerja sendiri antara pekerja upah rendah dan pekerja yang memiliki upah lebih tinggi yang umumnya berpendidikan tinggi dan menduduki posisi-posisi yang tinggi dalam perusahaan dan lebih dekat dengan pemilik modal secara struktural, maka hadirlah sebutan middle class untuk yang terakhir dijelaskan.

The Enemy, hadir ke belantika musik Inggris pada tahun 2007 dengan album "We'll Live And Die in These Townslangsung merebut hati banyak pencinta musik di Inggris, terutama dari masyarakat Coventry yang merupakan kampung halaman yang dicintai oleh ketiga personil band ini. Coventry merupakan sebuah kota kecil di Inggris bagian utara, dan ya! terwakili dengan karakter working class dari The Enemy yang tampaknya bangga dengan itu. Tom, Liam, dan Andy merupakan pemuda yang besar di Coventry dan merupakan bagian dari fans klub sepakbola Coventry City yang adalah klub kebanggaan kota ini yang berkandang di Ricoh Arena, sebuah stadion yang tak jarang digunakan untuk konser The Enemy. Dalam beberapa penampilannya, personil The Enemy kadangkala menggunakan aksesoris Coventry City, ini terlihat jelas pada video klip terbaru mereka "Be Somebody" dari album kedua mereka "Music For The People". Selain itu, dalam lembaran coveralbum perdana mereka "We'll Live And Die in These Towns" pun The Enemy menampilkan foto-foto mereka di berbagai jalan di Coventry. Kedekatan-kedekatan fisik seperti itulah yang membuat The Enemy tampak dekat dengan kota dan masyarakat Coventry.

Lagu-lagu dari The Enemy mayoritas adalah cerita kehidupan masyarakat working class, atau malah lebih baik lagi adalah curhat mereka sebagai working class people. dalam liriknya, The Enemy banyak sekali menuturkan keluh kesah hingga kenikmatan menjadi seorang dari latar belakang kelas bawah, mengkritik kelas atas dan pemerintah, serta terkadang menikmati keadaan dengan lirik deskriptif yang sedikit seperti story-telling. Musik rock mereka terasa sentuhan punk ala The Clash dan band punk pada zamannya dengan berbagai improvisasi yang hebat padabassline yang luar biasa klop dengan gitar dan drum yang seakan mengikuti. Logat kental Inggris utara yang medok dari Tom Clarke yang dibawakan dengan gaya bernyanyinya yang eksplosif menjadikan lirik dari lagu mereka semakin tajam. lagu-lagu dari dua albumnya tidak banyak berubah, tetap dengan aliran musik dan lirik yang sama, hanya saja di album kedua, musik The Enemy mulai bervariasi dengan instrumen-instrumennya.

Sayang, beberapa lagu The Enemy pernah di kritik sebagai plagiat. Namun, hal ini tidak begitu saja menghapus kegemilangan karya-karya band dari Coventry ini. The Enemy tetap memiliki karya-karya segar yang menghilangkan dahaga penikmat musik akan band dengan lirik yang bersentuhan dengan kehidupan sosial dan kehangatan dengan masyarakat lokal dan kelas bawah yang di Inggris akrab disebut working class.


Chandraditya Kusuma
ditulis di http://simbiosismusikalisme.blogspot.com/2010/01/enemy-uk-sekilas-meneropong-idola.html